Damsel(2018)
Sick for Toys(2018)
Destination Wedding(2018)
The Incredible Monk(2018)
Kin(2018)
Age of Summer(2018)
Berlin Falling (2017)
Loveless (Nelyubov) (2017)
The Tale (2018)
Isle of Dogs (2018)
Luis & the Aliens(2018)
Sparring(2017)
U – July 22 (Utoya 22. juli) (2018)
In Darkness (2018)
Making a Killing(2018)
Gatao 2: Rise of the King (Gatao 2: The New King) (2018)
Muse(2017)
The Padre(2018)
Ocean’s Eight (Oceans 8) (2018)

The Watcher(2018)
3.5
SD
01:22

NontonThe Watcher(2018)Film Subtitle Indonesia Streaming Movie Download

TRAILER
NONTON MOVIE

Mandy the Doll(2018)
2.9
HD
01:17

Solo: A Star Wars Story (2018)
7.2
HD
02:15

Final Score(2018)
5.5
HD
01:44

Mengembalikan kepercayaan penonton terhadap film laga dan seni silat sudah pernah dilakukan oleh Miles Films lewat Pendekar Tongkat Emas. Meski tak mendapat sambutan yang cukup meriah, Pendekar Tongkat Emas masih memiliki tujuannya yang mulia. Di tahun ini, Lifelike Pictures dengan usahanya menggandeng rumah produksi luar negeri yaitu 20th Century Fox, membangkitkan karakter silat legendaris milik tanah air.

Karakter silat rekaan dari Bastian Tito ini tentu sudah sangat dekat oleh penonton Indonesia. Lewat serial televisi, karakter ini tentu menjadi sosok yang sangat legendaris. Wiro Sableng, sang pendekar kapak maut naga geni ini mendapatkan kesempatan untuk diarahkan oleh Angga Dwimas Sasongko dalam versi layer lebarnya. Menggandeng Seno Gumira Ajidarma dan Tumpal Tampubolon dalam penulisan naskah, Lifelike Pictures membuka jalan karakter ini untuk membangun dunianya.

Vino G. Bastian ditunjuk sebagai orang yang tepat untuk mewarisi karakter Wiro Sableng yang dibuat alm. Bastian Tito, di mana Vino adalah anak dari pembuatnya. Tentu saja, Wiro Sableng akan diperankan dan dibuat dengan sepenuh hati karena inti hatinya ikut andil dalam pembuatannya. Pun, film Wiro Sableng dengan sub judul Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 ini mengajak Sherina untuk kembali berakting di layer lebar. Serta, mengajak nama baru seperti Fariz Al Farizi di dalam filmnya.


Tak berhenti di nama-nama seperti itu, banyak aktor dan aktris dengan nama besar juga ikut di dalam filmnya. Mulai Dwi Sasono, Yayan Ruhian, Yayu Unru, hingga sang istri dari Vino sendiri yaitu Marsha Timothy. Dengan nama-nama besar dan kerjasamanya dengan rumah produksi Hollywood, tentu membuat Angga Dwimas Sasongko mendapatkan tanggung jawab yang besar saat membuat film ini. Terlebih, ini tentu saja pertama kalinya Angga Dwimas Sasongko membuat film dengan genre berbeda.

Mungkin masih ada sedikit rasa khawatir dari penonton saat membuat Wiro Sableng ini ke sebuah film layer lebar. Mulai dari ketakutan membawa suasana nostalgia hingga mengelaborasi teknis dan pengarahannya dengan baik. Tetapi, dengan rekam jejak Angga Dwimas Sasongko, tentu saja Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 berhasil diarahkan menjadi sebuah film action fantasy yang menawan. Sekaligus, menetapkan standar yang tinggi dalam Raihan teknis di film Indonesia.


Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 mengadaptasi empat cerita novelnya menjadi satu cerita utuh di filmnya. Menceritakan tentang penyerangan sebuah desa oleh Mahesa Birawa (Yayan Ruhian) dan komplotannya sehingga membuat Wiro kecil harus terpisah dengan orang tuanya. Sinto Gendeng (Ruth Marini) lah yang pada akhirnya merebut Wiro kecil dari tangan Mahesa Birawa dan merawatnya hingga melatih Wiro menjadi sosok pendekar yang kuat.

Wiro (Vino G. Bastian) dianggap sudah dewasa dan cukup kuat untuk melanjutkan jalan hidupnya. Wiro Sableng pun dilepas untuk menemukan sosok Mahesa Birawa yang pada awalnya Wiro belum benar-benar tahu bahwa dia adalah sosok yang memisahkan dirinya dengan orang tuanya. Di tengah perjalanannya, Wiro bertemu dengan Pendekar Tapak Sakti (Fariz Al Farizi) dan Anggini (Sherina) dan terlibat konflik sebuah tahta kerajaan yang menuju ke satu titik utama yaitu Mahesa Birawa.


Dengan mengadaptasi 4 cerita sekaligus, tentu perlu ketelitian agar ceritanya tak terasa tumpang tindih. Tentu saja hal itu adalah misi yang sangat susah untuk dilakukan oleh Sheila Timothy, Seno Gumira Ajidarma, dan Tumpal Tampubolon. Mereka harus menahan egonya agar tidak terlalu ingin memaksakan setiap ceritanya tetapi juga tetap harus tahu bahwa Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 ini juga memiliki universe yang harus berkembang dan berpotensi membesar nantinya.

Alih-alih memperbanyak konflik yang bakal membuat film ini tidak fokus, Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 ini fokus terhadap satu konflik utama dengan sedikit cabang cerita. Yang dikorbankan memanglah pengembangan karakter yang banyak di dalam filmnya. Sehingga, beberapa karakter yang ada di dalam film ini hanya bisa tampil tanpa digali lebih dalam. Meskipun, setiap kemunculannya tidak ada kesan yang dipaksa.

Dengan segala kelemahan dalam segi cerita dan pengembangan karakternya ini, filmnya tetap bisa menyampaikan plot ceritanya dengan baik lantaran pengarahan Angga Dwimas Sasongko yang kuat. Di dalam durasinya yang mencapai 123 menit, penonton akan disuguhi setiap intrik perjalanan Wiro Sableng yang menarik untuk ditonton. Angga Dwimas Sasongko tahu untuk mengemas film ini agar tetap berjalan sesuai tujuannya yaitu untuk menghibur penontonnya.


Kelemahan dalam penulisan naskahnya diubahnya menjadi ladang emas untuk memiliki celah agar dikembangkan menjadi universe yang lebih besar. Sehingga, dengan banyak karakter yang tak tergali dengan baik, bisa membuat penontonnya yakin bahwa nantinya film ini akan memiliki sekuel yang patut untuk dinantikan. Sehingga, nantinya penikmat film Indonesia tentu akan memiliki film-film manusia berkekuatan super dengan dunianya yang sangat dekat dengan budaya Indonesia.

Meski berada di setting waktu dan universe yang berjarak dengan penontonnya, tetapi Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 masih diselipi dengan dialog-dialog satir masa kini. Angga Dwimas Sasongko tahu benar bagaimana menyampaikannya agar semua dialog itu tetap bisa terasa tak dipaksakan. Dialognya tersampaikan dengan dinamis, dipadu dengan dialog-dialog tengil dan menggelitik yang mampu menjadi punchline komedinya.

Performa Vino G. Bastian sebagai Wiro Sableng berhasil mengeluarkan kharismanya dan menjadi inti hati film ini. Vino G. Bastian mampu menginterpretasikan sosok Wiro Sableng yang tengil tetapi juga memiliki sisi-sisi kemanusiaannya yang bisa membuat penontonnya bersimpati. Kolaborasinya juga kuat dengan sang guru, Sinto Gendeng yang diperankan oleh Ruth Marini. Sehingga, hubungan guru dan murid antara mereka berdua tampil secara natural.


Didukung oleh tata suara megah, sinematografi dengan warna yang memanjakan mata, dan visual efek yang bagus untuk ukuran film mega budget di Indonesia, Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 memiliki hasil yang sangat memuaskan. Film ini berhasil menjadi sebuah pencapaian tertinggi dalam hal teknis dalam filmmaking di film-film Indonesia. Kapan lagi film Indonesia memiliki sebuah karya yang bisa membangun universe-nya dengan sangat baik dan berpotensi untuk semakin besar. Inilah kekuatan dalam Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 yang tak pernah dimiliki film-film Indonesia sebelumnya, bisa membuat universe superhero lokal yang bisa nantikan selanjutnya. Keren sekali!

Setelah Deepwater Horizon dan Patriots Day yang tayang di tahun 2017, maka tahun ini Peter Berg mempersiapkan proyek terbarunya. Proyek terbarunya pun tetap menggandeng aktor Mark Wahlberg untuk diajak kerjasama. Proyek film berjudul Mile 22 ini mungkin telah mendapatkan hype luar biasa, terlebih di ranah dalam negeri, karena menggandeng aktor Indonesia yang terkenal lewat franchiseThe Raid.

Iko Uwais diajak oleh Peter Berg untuk beradu akting dengan Mark Wahlberg dan beberapa nama lainnya seperti John Malkovich, Lauren Cohan, dan Ronda Rousey. Tentu saja, dengan adanya nama Iko Uwais di dalam film Mile 22 yang notabene digarap oleh Hollywood membuat bangga dan juga membuat penonton Indonesia Penasaran. Iko Uwais pun bukan hanya sekedar cameo dengan screen time yang sedikit di dalam film ini.

Mile 22 tentu akan terasa berbeda dengan 3 film terakhir Peter Berg yaitu Lone Survivor, Deepwater Horizon, dan Patriots Day yang didasari oleh kisah nyata. Peter Berg menunjuk Lea Carpenter untuk menuliskan naskahnya yang juga dibantu oleh Graham Roland untuk mengembangkan ceritanya. Lewat Mile 22, Peter Berg kembali ke jalur fiksi dan berusaha menjadikan film ini sebagai sebuah sekuel yang berkesinambungan.


Bagi yang akan menonton film ini tentu perlu untuk bersiap-siap karena Mile 22 ini adalah sebuah cerita permulaan untuk film-film selanjutnya. Tetapi, Mile 22 ini seakan terasa usaha Peter Berg untuk tetap membuat filmnya sebagai permulaan yang tak menggebu-gebu untuk dijadikan sebuah sekuel. Peter Berg tahu untuk mengawali dan mengakhiri filmnya tanpa memiliki kesan Mile 22 sangat ambisius membangun universe.

Sayangnya, keambisiusannya berubah kepada bagaimana Peter Berg menuturkan setiap menitnya di dalam film Mile 22. Film terbaru dari Peter Berg sebenarnya memiliki cerita yang sederhana di balik temanya yang mengandung unsur politik dan konspirasi. Cerita dengan tema seperti ini memang sudah menjadi ciri khas dari Peter Berg. Hanya saja, penuturan cerita di Mile 22 ini tak semulus seperti apa yang dilakukan Peter Berg di beberapa film terakhirnya.


Mile 22 dipusatkan pada sosok anggota CIA bernama James Silva (Mark Wahlberg) yang sedang berada di sebuah misi penting. James harus membawa seorang mantan polisi yang menjadi saksi kunci yang membawa informasi rahasia demi kelangsungan negara. Polisi tersebut adalah Li Noor (Iko Uwais) yang berasal dari negara Indocarr. James harus bisa membawa oknum ini ke sebuah bandara dengan selamat. Sayangnya, hal itu tidak berjalan dengan mulus-mulus saja.

 Di perjalanannya menuju bandara, banyak sekali orang-orang yang berusaha menghalangi dirinya. Li Noor diincar oleh banyak orang mulai dari polisi melakukan oposisi dan oknum yang bersekongkol dengannya. James Silva tentu saja akan kewalahan untuk menghadapinya sendiri. Dirinya dibantu oleh rekan-rekannya yaitu Alice Kerr (Lauren Cohan), Sam Snow (Ronda Roussey), dan sang bos Bishop (John Malkovich) yang berusaha mengarahkan mereka.


Plot sederhana yang dimiliki oleh Mile 22ini sebenarnya bisa disampaikan dengan cara yang sederhana pula. Peter Berg mungkin sudah tahu bahwa Mile 22 ini akan menjadi sebuah trilogi yang berkesinambungan nantinya. Sehingga, Mile 22 sebagai sebuah film permulaan ini tentu memiliki banyak cerita pengenalan yang sangat tumpang tindih. Banyak yang ingin dibahas oleh Peter Berg di dalam Mile 22 yang sedang berusaha membangun universe-nya ini.

Apabila Peter Berg mau untuk sedikit menurunkan egonya untuk membangun universenya secara perlahan, Mile 22 bisa jadi sebuah action suspense yang mencengkram penontonnya. Jika saja Peter Berg mau untuk fokus ke dalam misi penyelamatan Li Noor, Mile 22 akan punya intensitas yang lebih dari cukup untuk sebuah film yang berdurasi 94 menit ini. Tetapi, Peter Berg lebih memilih untuk mengelaborasi berbagai macam cerita dan karakter yang malah menyerang balik filmnya.

Hasil akhirnya, banyak karakter yang tak bisa berkembang dengan baik dan sangat terbatas. Meskipun dalam naskah Lea Carpenter ini masih berusaha untuk memberikan konflik-konflik kecil untuk mengembangkan karakter-karakter yang ada. Hanya saja, penyampaian itu tak benar-benar memiliki ruang yang pas di dalam filmnya. Sehingga, karakter-karakter tersebut tak bisa berinteraksi dengan baik kepada penontonnya dan adegan-adegan emosionalnya pun tak bisa berbicara dengan cukup kuat.


Peter Berg masih berusaha untuk tetap memberikan kekhasan di dalam filmnya dan Mile 22 pun masih terasa demikian. Menjunjung tema-tema patriotisme dengan caranya sendiri pun kemasannya yang berusaha untuk realistis. Tetapi, pergerakan kamera dan editing di dalam Mile 22 adalah hal utama yang membuat film ini tak bisa berinteraksi dengan baik. Mile 22 ingin terasa realistis di mata penontonnya sehingga kemasannya lebih dekat ke sifat Mockumentary. Tetapi, tata sunting yang tak rapi malah menyerang balik tujuan Peter Berg dan membuat rasa tak nyaman bagi penontonnya.

Tata sunting yang sengaja dibuat begitu mentah ini memang ditujukan agar membangun intensitas bagi penontonnya. Sayangnya, bagi penonton yang tak bisa toleran dengan gaya seperti ini tentu akan merasa pusing dan universe yang dibangun pun tak akan diingat oleh benak penontonnya. Tetapi, kolaborasi Peter Berg dengan Iko Uwais untungnya masih menghasilkan output yang berjalan dengan baik. Iko Uwais mampu melakukan tugasnya sesuai ekspektasi penonton dan menjadi hal yang paling bersinar di dalam filmnya.

Iko Uwais berhasil menunjukkan kekuatan aktingnya yang semakin berkembang dengan baik. Begitu pula dengan Fight Choreography-nya yang mampu memukau penonton. Sehingga, Iko Uwais bisa menjadi karakter yang dibuat bukan sembarangan. Peter Berg tahu bagaimana caranya untuk membuat kolaborasinya dengan Iko Uwais ini tidak sia-sia. Setidaknya Mile 22 masih memiliki cara untuk memuaskan penonton lewat adegan fighting yang seru.


Mile 22 memang punya dasar ceritanya untuk membangun universe-nya yang besar terlebih memang tujuannya adalah untuk membuat sebuah sekuel. Tetapi, Mile 22 akan lebih cocok untuk dijadikan sebagai episod pilot sebuah serial televisi dengan durasi 60 menit. Masih banyak hal yang menjadi catatan baik secara teknis dan penuturan cerita dari Mile 22 ini agar lebih efektif. Tetapi, dengan performa Iko Uwais dan penyelesaiannya, setidaknya penonton masih memiliki amunisi untuk menunggu seri berikutnya. Berharap saja bakal lebih baik!

Setelah berkerjasama bersama Screenplay Infinite Films untuk membuat sebuah film action, Timo Tjahjanto kali ini bekerjasama ulang untuk menghasilkan film baru. Berganti nama rumah produksi meskipun masih di naungan yang sama, Sky Media dan Timo kembali mengarahkan filmnya sendiri tanpa bantuan rekannya Kimo Stamboel. Kembali ke akarnya untuk membuat film horor, tentu saja membuat penikmat film sangat senang.

Film-film horor buatan Timo selalu mendapatkan hati di penontonnya mulai dari Rumah Dara dan Killers. Keunggulan Timo dalam mengarahkan sebuah film horor juga tersaji lewat beberapa film pendeknya. Safe Haven yang pernah difitur menjadi segmen terakhir di omnibus V/H/S 2dan L for Libido di dalam omnibus The ABC’s of Death. Maka, tentu saja film terbarunya yang berjudul Sebelum Iblis Menjemput ini sangat dinantikan.

Sebelum Iblis Menjemput dibintangi oleh 2 aktris papan atas Indonesia yaitu Chelsea Islan dan Pevita Pearce. Kedua aktris ini pun juga baru pertama kali bermain dalam film horor sehingga semakin membuat calon penontonnya penasaran. Juga, film ini didukung oleh pemain-pemain seperti Karina Suwandi, Ray Sahetapi, dan Rafo Samael. Sebelum Iblis Menjemput tak hanya disutradarai oleh Timo sendiri tetapi juga naskahnya pun ditulis sendiri.


Dengan beragamnya film-film horor Indonesia yang berusaha untuk mengekspos film horor dengan plot menggunakan kultus, sekte, dan perjanjiannya, tentu saja membuat Sebelum Iblis Menjemput akan dibanding-bandingkan. Banyak yang akan beranggapan bahwa Sebelum Iblis Menjemput menyadur film-film horor Indonesia seperti Pengabdi Setan atau Kafir. Seharusnya, plot-plot seperti ini sudah sering digunakan oleh film-film horor baik domestik maupun luar negeri.

Tetapi, meski dengan penanda yang mirip satu sama lain, Sebelum Iblis Menjemput punya caranya sendiri untuk menuturkan ceritanya. Timo Tjahjanto dengan segala referensi film horornya, tentu tahu untuk mengemas Sebelum Iblis Menjemput. Timo akan mengantarkan penontonnya untuk menikmati mimpi buruk saat menonton Sebelum Iblis Menjemput dengan durasi mencapai 115 menit ini.


Timo membuat sebuah mimpi buruk yang dimulai dari seorang lelaki paruh baya bernama Lesmana (Ray Sahetapy) yang sedang koma di rumah sakit. Alfie (Chelsea Islan), anak perempuannya dari istri pertama datang menghampiri sang ayah yang sudah tidak berdaya. Alfie datang karena telepon dari Maya (Pevita Pearce) yang juga anak perempuannya tetapi hasil dari pernikahan keduanya.

Lesmana ditemukan jatuh sakit dan koma di sebuah rumah villa kecil di antah berantah. Alfie memutuskan untuk datang ke villa tersebut untuk mencari tahu apa yang terjadi oleh sang ayah. Tanpa disadari, keluarga dari istri kedua Lesmana datang ke villa tersebut. Alfie dan keluarga dari istri keduanya berusaha untuk membersihkan rumah tersebut dan mencari apa yang tersisa di rumah tersebut. Tetapi, kejadian aneh menyerang mereka di malam yang sunyi itu. 


Kejadian-kejadian di malam yang sangat mencekam itu berhasil diolah menjadi Timo untuk menjadi kekuatan di dalam filmnya. Sebelum Iblis Menjemput sukses membuat penontonnya bergidik ngeri sepanjang 115 menit. Timo terlihat berusaha keras untuk mengarahkan Sebelum Iblis Menjemputagar bisa membangun nuansa horor yang atmosferik. Untung saja, usaha kerasnya berhasil membuat setiap penampakan yang ada terasa maksimal.

Timo tak memberi ampun penontonnya saat menyaksikan Sebelum Iblis Menjemput. Timo langsung memulai Sebelum Iblis Menjemput dengan atmosfer yang sangat mencekam dan gelap. Di 30 menit pertamanya, penonton sudah langsung berhasil ditakuti lewat pembangunan atmosfer horor dan jumpscares yang tepat sasaran. Adrenalin penonton pun sudah naik sejak 30 menit pertamanya dan dengan antusias menyaksikan sisa durasinya.

Satu jam pertama Sebelum Iblis Menjemput memang benar-benar membuktikan bahwa Timo Tjahjanto sangat kompeten dalam mengarahkan sebuah film horor. Caranya mengarahkan film Sebelum Iblis Menjemput akan membuat film ini terasa bukan buatan dalam negeri. Timo yang sudah kaya akan referensi-referensi plot cerita serupa berusaha memaksimalkannya di film ini. Meskipun, Sebelum Iblis Menjemputmasih memiliki kendala di dalamnya.


115 menit di Sebelum Iblis Menjemput tidak bisa berjalan sangat mulus terlebih di paruh kedua. Timo Tjahjanto yang sudah berhasil mencengkram penontonnya di paruh pertama, tiba-tiba melepaskan cengkramannya perlahan. Paruh kedua film ini memang tak benar-benar mengalami penurunan drastis, tetapi penceritaannya yang terlalu ingin banyak yang diceritakan. Terlihat bahwasanya Timo menahan dirinya agar film ini tak berjalan terlalu jauh. Meskipun harus mengorbankan beberapa poinnya yang tidak bisa disampaikan dengan utuh. 

Sebelum pada akhirnya Sebelum Iblis Menjemputjatuh ke dalam lubang yang lebih dalam, Timo Tjahjanto langsung mencengkram penontonnya lagi. Paruh akhir film ini naik dengan cara Timo mengarahkan performa dua aktris utamanya. Pevita Pearce mampu mencuri hati penonton dengan performanya yang luar biasa dibandingkan dengan film-film sebelumnya. Begitu pula dengan Chelsea Islan yang berhasil menjadi sosok karakter yang kuat.

Keduanya mampu berkolaborasi sehingga performa Chelsea Islan dan Pevita Pearce bisa saling melengkapi. Timo Tjahjanto berhasil membuat dua aktris Indonesia ini keluar dari zona nyamannya lewat Sebelum Iblis Menjemput.Sekaligus, performa Karina Suwandi yang berhasil membuat penontonnya bergidik ngeri. Sisi teknis di Sebelum Iblis Menjemput juga menjadi hal yang menarik untuk diperhatikan.


Bintang utama dalam teknis filmnya ini adalah gubahan musik yang tampil untuk menguatkan filmnya. Bukan menjadi hal yang membuat suasana horornya terasa manipulatif. Begitu pula dengan cara Timo untuk mengambil adegan demi adegannya. Menggunakan aspect ratio 1:85:1 ini ditujukan agar penonton bisa merasakan karakter dan suasananya dengan lebih intimate. Sehingga, tensinya bisa dirasakan betul oleh penontonnya.

Sehingga, setelah selesai menonton Sebelum Iblis Menjemput,rasa akhir yang dirasakan adalah rasa stres saat menonton. Bukan karena filmnya kurang bagus, tetapi Timo Tjahjanto terus menerus mengganjar kengeriannya tanpa ampun. Timo Tjahjanto sekali lagi membuktikan bahwa dirinya memang bisa diperhitungkan saat menangani film-film seperti ini. Sebelum Iblis Menjemput adalah sebuah pompa adrenalin yang ampuh untuk penikmat film horor Indonesia yang ingin merasakan dijemput oleh iblis jahat.
 
Setelah A Wrinkle In Time, tahun ini cukup banyak film Live Actiondari Disney yang dirilis. Salah satunya adalah sebuah film yang berasal dari karakter rekaan dari buku milik A.A. Milne. Christopher Robin mengembalikan masa kecil penggemar karakter Winnie The Pooh, Tigger, Piglet, dan kawan-kawannya di zaman sekarang. Meskipun, film live action ini tak benar-benar diadaptasi dari cerita dari buku A.A.Milne tetapi gabungan dengan film-film animasi buatan Disney sebelumnya.

Christopher Robindipromosikan sebagai sebuah film keluarga yang bisa ditonton oleh banyak kalangan. Dengan cara promosi itu, Christopher Robin bisa dibilang punya orang yang tepat untuk mengarahkan filmnya. Marc Forster, orang yang ditunjuk oleh Disney untuk mengarahkan Christopher Robin yang biasa menangani film-film keluarga mulai dari The Kite Runner dan Finding Neverland. Christopher Robin kali ini diperankan oleh Ewan McGregor dan tentu saja Jim Cummings kembali hadir menyapa penontonnya.

Trailernya yang sudah dipasang tone cerita yang lebih personal dan lebih hangat, tentu saja membuat cukup banyak orang tertarik untuk menonton film ini. Terlebih, karakter Winnie The Pooh dan teman-temannya sebenarnya sudah cukup menjadi senjata utama dari Christopher Robin untuk dijual. Bahkan, target segmentasinya bisa jauh lebih besar karena film ini dapat dikategorikan sebagai sebuah film keluarga. Meskipun, bintang utama film ini sebenarnya adalah karakter Christopher Robin.


Dari trailer dan bahkan judulnya, sudah terlihat bahwa film ini fokus terhadap sosok Christopher Robin yang sedang mengalami krisis di usia paruh bayanya. Christopher Robin (Ewan McGregor) sedang mengalami kebingungan atas pekerjaannya yang selalu menuntut dirinya. Setiap hari dan waktu, Christopher Robin selalu menghabiskan waktu untuk bekerja hingga dirinya lupa memikirkan Istrinya bernama Evelyn (Hayley Atwell) dan anaknya Madeline (Bronte Carmichael).

Pekerjaan yang dilakukan oleh Christopher Robin secara tidak langsung membuatnya tidak dekat dengan keluarganya. Hingga ketika Christopher Robin mulai kebingung untuk menyelesaikan masalah di kantor dan keluarganya, sosok dari masa lalunya hadir secara mendadak. Sosok beruang kecil penyuka madu bernama Winnie The Pooh (Jim Cummings) hadir kembali di kehidupan Christopher Robin. Kehadirannya membuat Christopher Robin mulai memikirkan kehidupannya.


Terlihat memang bagaimana Christopher Robin memang tak langsung terkonsentrasi dengan satu sumber saja. Terlihat bagaimana Alex Ross Perry dan Tom McCarthy berusaha untuk memasukkan kekhasan karakter Winnie The Pooh dan teman-temannya di dalam filmnya. Mereka bisa mengelaborasi beberapa referensi dari film-film lepasan dari Winnie The Pooh dengan buku klasiknya untuk dimasukkan ke dalam Christopher Robin. Sehingga, penonton yang hanya kenal lewat film-film lepasan dan serinya ini sangat bisa merasakan unsur nostalgianya itu.

Christopher Robin adalah sebuah film yang diarahkan untuk menjadi media penyelamat diri dari pribadi yang terlalu serius. Marc Forster seperti memberikan sebuah surat cinta bagi para dewasa yang sedang mengalami stres luar biasa dalam hidupnya seperti karakter Christopher Robin yang sedang mengalam mid-life crisis di dalam film ini. Lewat Christopher Robin, Marc Forster memberikan spasi dalam hidup agar seimbang dan semakin dekat dengan anggota keluarga penontonnya.


Christopher Robin berusaha untuk mengartikan kalimat "work life balance" yang sangat relevan dengan penontonnya. Lewat Christopher Robin, Marc Forster berusaha mengajak penontonnya berhenti sejenak dari kehidupan di dunia nyata yang terkadang tak selalu indah. Kenangan masa kecil memang menjadi senjata ampuh untuk membuat hati gembira dan Marc Forster tahu benar menerjemahkan hal tersebut lewat film Christopher Robin ini.

Tak hanya plot ceritanya saja, tetapi Marc Forster menggunakan kenangan masa lalu lewat teknik pengarahannya. Marc Forster berusaha untuk mengembalikan formula film-film keluarga milik Disney yang pernah dipakai sebelumnya.  Hasilnya, Christopher Robin yang diarahkan oleh Marc Forster ini memang terbilang formulaik. Tetapi, pengarahan yang dilakukan oleh Marc Forster lewat Christopher Robin memunculkan sebuah citarasa yang dirindukan oleh penikmat film-film keluarga.

Karakter yang lugu, konflik yang tidak berlebihan, dan penuturan yang hangat begitu kuat terpancar lewat film Christopher Robin ini. Meskipun dampaknya, beberapa penyelesaian konfliknya akan terlihat dengan mudah dan bisa ditebak. Tetapi, menikmati film Christopher Robin tak bisa dengan rasa superioritas untuk menemukan sesuatu yang segar. Marc Forster mengeluarkan segala kebesaran hatinya dalam Christopher Robin dan penonton bisa merasakan semua itu.


Marc Forster berusaha agar filmnya masih memiliki citarasa puitis sehingga terkesan lebih dalam. Terlihat dari bagaimana Marc Forster bermain lewat warna dan sinematografi di dalam filmnya. Pun, mencoba mengaitkan beberapa tanda dan simbol di setiap karakternya agar terasa lebih dekat penontonnya dengan pesan yang lebih implisit. Meskipun, masih ada beberapa bagian di dalam filmnya yang dibuat seeksplisit mungkin karena tentu saja Marc Forster ingin membuat film keluarganya ini bisa dinikmati oleh banyak orang.

Kolaborasinya dengan Ewan McGregor dapat menghasilkan sebuah karakter yang memiliki koneksi kuat dengan sesuatu yang fiksi seperti Winnie The Pooh dan kawan-kawannya. Ewan McGregor bisa meyakinkan penontonnya bahwa hubungannya dengan Winnie The Pooh bisa adalah hubungan antara sahabat yang sudah lama terpisahkan. Sehingga, di momen-momen terpenting di filmnya, Marc Forster bisa membuat penontonnya terharu dan rela meneteskan air matanya. Didukung pula dengan musik-musik indah yang akan semakin menghangatkan hati penontonnya.


Christopher Robin adalah cara Disney untuk mengembalikan film-film dengan penuturan lamanya dan Marc Forster berhasil berkolaborasi dengan hal itu. Winnie The Pooh, Tigger, Piglet, Eeyore, dan beberapa kawanannya siap mengajak semua keluarga untuk kembali merasakan kehangatan di dalam hidupnya. Tentu saja, Christopher Robin sangat direkomendasikan untuk penonton yang sedikit melepas beban dalam hidupnya yang terlalu serius dan siap-siap rasa haru di dalam filmnya akan membuat mata menitihkan air mata. Instant Classic!

 
Copyright © 2015 Rado Movie